Terima Kasih Guru SD atas Makna Kompetisi

Ansa Gaora
2 min readApr 20, 2022

--

Melihat langit biru perlahan mendung, embun-embun mulai bergerombol, udara lembab dan dingin kemudian hinggap membuatku mengingat memoar masa kecil

Aku lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga yg sama sekali tdk kompetitif. Semua orang menjalani hidup dgn nyaman, tentram. Menikmati matahari pagi, menjaga daun-daun tanaman di rumah dari debu, hingga memperlakukan hewan peliharaan sebagai bagian yg tak terpisahkan dari hidup. Nikmat sekali. Namun, di sekolah nyaman dan tentram susah sekali didapat. Di sekolah dasar, Ibu guru membandingkan nilai anak yg satu dengan anak yg lain. Teman-teman berlomba punya pensil dan pulpen yg paling keren sejagat. Untung saja, setiap orang harus punya sepatu warna yg sama. Tidak terlihat jelas mana yg lebih mahal dari yg lain. Sekolah dan rumah menjadi menyenangkan karena serasa hidup di dunia berbeda

Makin hari, ternyata rumah menjelma sekolah. Kompetisi menjadi makanan harian. Hari satu berlalu, hari esok harus lebih baik. Berbuat baik satu, esok tidak boleh cuma lima. Dapat satu, semua orang harus rasa. Tiap hari tak boleh ada salah. Kompetisi itu makin hari makin nyata. Keluarga masih sama, hidup nyaman dan tentram

Semakin menginjak dewasa, aku masih memperlakukan matahari pagi, daun-daun tanaman di rumah, hewan peliharaan seperti dulu. Bedanya, sekarang aku amat menyukai kompetisi. Tak terpaut di rumah, sekolah, atau dimana saja. Jika dulu buat baik satu, esok harus lima. Sekarang, aku ingin memindahkan satu gunung ke tengah kota. Membawa lari kemajuan ke tempatnya. Membuat orang kota dapat memilah mana manis dan gula. Membawa rasa kenyang kepada mereka yang susah. Kalau bisa memindahkan basah pada mereka yg kering. Membawa orang plesiran ke ruang angkasa dan dapat mengelus gemintang serta bulan sepuasnya. Aku selalu ingin berkompetisi pada hal yang mustahil. Pada hal yg tak sempat orang pikirankan untuk dilakukan, apalagi diwujudkan. Blm disebut mimpi dan cita-cita jika blm jadi bahan tertawaan

Terima kasih Ibu Guru Sekolah Dasar, berkatmu aku sgt amat menyukai kompetisi. Tak terpaut sekolah, rumah, atau dimanapun jua. Hal ini aku sadari setelah aku mengerti, bahwa ternyata kompetitor yg sebenarnya adalah diri sendiri

--

--